Kamis, 05 Mei 2011

Gagasan Dan Cita-cita

Pendidikan pondok Pesantren (ponpes) merupakan model pendidikan Islam yang banyak dipakai dan berlaku di beberapa Negara Islam. Namu di Negara-negara itu, Pendidikan Islam telah banyak mengalami kemajuan dan perkembangan yang Pesat, sedangkan lembaga pendidikan ponpes di Indonesia masih mengalami pasang surut, bahkan lebih banyak yang kurang bisa eksis dan belum mampu berkembang pesat sebagaimana lembaga pendidikan serupa di Negara-negara Islam lainnya. Karena itu pengembangan ponpes di Indonesia, dan di Sumatera Utara khususnya harus mengambil cermin dan kaca perbandingan dari Lembaga-lembaga Islam, baik di dalam maupun luar Negeri.


Sejarah telah membuktikan bahwa salah satu faktor yang menjamin keabadian dan kelanggengan ponpes adalah status wakaf murni untuk kebaikan umat. Disamping besarnya permintaan dan dukungan dari masyarakat Desa Tumpatan Nubung Deli Serdang dan sekitarnya untuk segera didikrikann ponpes di wilayah mereka demi memenuhi kebutuhan pendidikan, terutama pendidikan agama, pendirian ponpes. Mawaridussalam ini dilatar belakangi oleh kesadaran mendalam akan belum adanya ponpes "wakaf murni" untuk umat di Sumut dengan manajemen wakaf ponpes masih dibatasi oleh hubungan keluarga dan kekerabatan, bukan karena kapasitas dan profesionalitas.

Dengan manajemen wakaf yang benar, Ponpes. Mawaridussalam digagas dan dicita-citakan menjadi lembaga pendidikan seperti Universitas Al-Azhar di Mesir, Universitas Syanggit di Mauritania, Universitas Aligarh dan Perguruan Santineketan di India dan ponpes Modern Gontor di Jawa Timur. Kelima lembaga pendidikan tersebut menjadi sintesa dan idaman pendiri Ponpes Mawaridussalam Deli Serdang. Dengan demikian pendirian Ponpes Mawaridussalam dengan status "wakaf murni" yang berlokasi di Jl. Peringgan Desa Tumpatan Nibung Kec. Batang Kuis Kab. Deli Serdang Sumut menjadi sangat penting, dibutuhkan dan perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak untuk kepentingan Masyarakat, Agama, dan Bangsa.

Tidak dapat disangkal bahwa umat Islam Indonesia, juga umat Islam di seluruh dunia, terbagi ke dalam berbagai suku, bangsa, negara dan bahasa, mereka juga terbagi kedalam aliran-aliran faham agama, kelompok-kelompok organisasi dan gerakan baik dalam bidang politik, sosial, dakwah. ekonomi, maupun yang lain. Kenyataan ini menunjukkan adanya faktor pengkategori yang beragam. Karena itu, semua dasar klasifikasi tersebut tidak boleh dijadikan dasar pengkotak-kotakan umat yang menjurus kepada timbulnya pertentangan dan perpecahan di antara mereka. Maka Ponpes Mawaridussalam selalu berusaha menanamkan kesadaran mengenai hal ini dan mengajarkan persaudaraan dalam satu ukhuwwah diniyyah.

Disisi lain, banyak lembaga pendidikan yang masih timpang. Ada yang hanya konsentrasi di ilmu umum saja. Sebaliknya ada yang hanya konsentrasi di ilmu agama saja. Padahal anak didik harus dididik dengan kedua ilmu tersebut secara berimbang. Juga ada lembaga pendidikan yang didirikan oleh golongan tertentu dengan menanamkan ideologi golongan secara belebihan. Sehingga timbulah fanatisme golongan dan perpecahan diantara umat.

Belajar dari fenomena-fenomena tersebut, pendiri berusaha untuk membebaskan Ponpes Mawaridussalam dari kepentingan-kepentingan sempit dari golongan tertentu, dengan mengibarkan motto"Ponpes Mawaridussalam berdiri diatas dan untuk semua golongan."

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More